Jumat, 09 Februari 2018

INDISCH NEDERLANDER VAN SAPAROEA


SOALANDA SAPAROEA

Soalanda. Ya, para Tetua Saparua terdahulu menyebutnya dengan nama itu, hingga kini kami pun menyebutnya demikian. Kawasan yang menjadi pemukiman warga keturunan Belanda, berlokasi di Kota Saparua, berada tepat di petuanan/dati milik Soa Pelatu (Titaley) yang diperuntukkan atau di “tukar guling” kepada mereka (?) Di kawasan Soalanda ini, dahulunya berdiri gedung-gedung besar bertiang tinggi mengikuti arsitektur Eropa semisal gedung Saparoea Lagere School (SDN 2 Saparua - sekarang), Saparoea Residente Sectie (Kantor Kecamatan Saparua - sekarang), Residenhuis (Rumah Residen/Rumah Camat – sekarang), Saparoea Landraad Afdeling (Kantor Pengadilan Negeri), Rumah-rumah Warga Keturunan dan lain sebagainya. Kawasan elite ini dihuni oleh warga kelas satu pada masa itu, karena lokasi pemukiman yang tidak seberapa jauh atau masih satu kawasan dengan Benteng Duurstede, Soalanda pun sangat mudah diawasi oleh serdadu-serdadu Belanda yang memberikan perlindungan dan pengawasan ketat terhadap aset-aset pemerintah Kolonial Hindia Belanda, pada masa itu.

Kantor Kontroliir Saparoea (Kawasan Soalanda)
Hal ini dikonfirmasi oleh Pieter. H. van der Kemp dalam bukunya : Het herstel van het Nederlandsch gezag in de Molukken in 1817 yang terbit tahun 1911. Van der Kemp menulis :
Aan de noordzijde aanschouwt men de hoofdplaats Saparoea met fort Duurstede. Schilderachtig doet zij zich voor van de reede gezien lezen wij vooral door het op eene kalkrots gebouwde steenen fort Duurstede. Duizenden klapperpalmeu en andere vruchtboomen overschaduwen de woningen, welke meer van het middelpunt der hoofdplaats zijn verwijderd. Enkele op europeesch-indische wijze gebouwde huizen, onder welke het residentiehuis het voornaamste is, strekken zich achter het fort uit, langs eene breede straat, in eene lijn, nagenoeg evenwijdig aan het strand achter deze rei huizen liggen nog eeuige min of meer op europesche wijze gebouwde huizen, bewoond door mestiezen of burgers (hlm. 469).
(terjemahan “garis besarnya” : Di Negeri Saparua terdapat Benteng Duurstede di sekitarnya terdapat beberapa rumah orang Indo Eropa yang berdekatan dengan rumah Residen yang menuju ke arah benteng. Rumah-rumah tersebut adalah milik Kaum Burger atau Mestizo)
Hal mana juga dicatat oleh DS (Dictus – Pendeta) Steven Adriaan Buddingh dalam bukunya (hlm 196-197), yang terbit di Amsterdam tahun 1857 : “Nederlands Oost-Indie Reizen Over Java, Makasar, Madura, Selayar, Ambon, Haroeko, Saparoea, Noesalaut

Negeri Saparua, diperintah oleh seorang Raja, yang berpenduduk kira-kira 1400 Jiwa. Negeri Saparua adalah negeri yang “lumayan” luas dan terbuka. Cukup banyak tempat yang “kosong” dan “dipenuhi” banyak pohon kelapa, membuat negeri itu nyaman dan sejuk.
Negeri Saparua memiliki beberapa jalan utama yang lebar dan panjang, serta membentang dari barat ke timur “di sepanjang” teluknya. Masih ada juga jalan lain, yang membentang kearah utara, dan saling “berpotongan”.
Sebagian besar rumah, bergaya Eropa, yang bertembok batu, tapi ada juga rumah yang hanya dari bambu atau gaba-gaba. 
Dari Rumah Asisten Residen Saparua (di masa itu, pemimpin Saparua dan Haruku disebut Asisten Residen dan berpusat di Negeri Saparua), terlihat ada bangunan batu di tepi teluk, itulah Benteng Duurstede, yang di tahun 1691 dibangun oleh Nicolaas Schagen, Gubernur VOC Ambon (1691 – 1696). Di samping benteng itu, terdapat sebuah gudang cengkih yang besar. Kantor Asisten Residen (Kantor Pemerintahan) terletak di bagian barat dari rumah “dinas” Asisten Residen dan jalannya menuju ke Negeri Tiouw yang terhubung dengan Negeri Saparua.
Di jalan yang “terhubung” itulah, di sekitarnya terdapat gereja dan sekolah, yang bangunannya seperti “menyatukan” kedua negeri itu.
Gereja itu pada tahun 1802 dibangun untuk menggantikan gereja yang berada di sekitar benteng, dan merupakan salah satu bangunan paling indah di Pulau Saparua, selain gereja yang berada di Negeri Waai (Ambon), Siri Sori Kristen, Haria dan Porto. Jumlah penduduk Kristen di dua negeri itu berjumlah 1616 jiwa, termasuk 610 anggota sidi gereja dan 800 anak-anak.
Jumlah orang bebas (burger/borgor) yang beragama Kristen 1256 jiwa. Keturunan orang Eropa hanyalah sebagian kecil saja, bahkan lebih kecil dari populasi orang pribumi.
Jumlah anak-anak sekolah yang tercatat berjumlah 203 siswa yang dipimpin dan dididik oleh seorang Guru Sekolah atau Guru Keliling.

Alun-alun Kota Saparua (Dekat Kawasan Soalanda)
Kawasan Soalanda yang didominasi oleh orang-orang Eropa (kulit putih) tentunya tak bisa lepas dari interaksi sosial yang intens dengan pribumi Saparua, perjumpaan-perjumpaan  itu lalu melahirkan keturunan-keturunan Indo Belanda Saparua atau disebut Kaum Burger/MestizoKawasan dengan kaum Burger/Mestizo yang ada di dalamnya kemudian dinamai dan dikelompokkan oleh Para Tetua Negeri Saparua menjadi “Soa/Rumatau” berdasarkan genetik/ras yang sama dengan nama “SOALANDA/SOA WALANDA/SOA BELANDA”.

Berdasarkan Undang-Undang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tahun 1854 yang menyamakan beragam kelompok penduduk asli di Nusantara kala itu, terutama untuk tujuan diskriminasi sosial. Selama masa pemerintahan, Kolonial Belanda menanamkan sebuah rezim segresi/pemisahan rasial 3 tingkat berdasarkan status/kelas sosial yaitu :

1.       Ras kelas pertama : Europeanen/Eropa (kulit putih)  yang meliputi orang Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris dan lain-lain
2.       Ras kelas kedua : Vreemde Oosterlingen/Timur Asing yang meliputi orang Tionghoa/China, Arab, India dan Non Eropa lainnya.
3.       Ras kelas ketiga : Inlander/Pribumi/Penduduk Asli setempat.

Akibat dari rezim segresi/pemisahan rasial oleh pemerintah Kolonial Belanda maka timbulah status/kelas sosial yang membedakan dan juga memisahkan pemukiman tempat tinggal warga kelas satu/elite/eropa, warga kelas dua/timur asing dan kelas tiga/pribumi. Beberapa contoh pemukiman warga kelas satu/elite/eropa di Maluku yang rata-rata berdekatan/satu kompleks dengan benteng pertahanan semisal Soalanda di Kota Saparua berdekatan dengan Benteng Duurstede, Harukuij di Negeri Haruku berdekatan/satu komplek dengan Benteng Nieuw ZeelandiaMardijkers/Mardika di Kota Ambon berdekatan dengan Benteng Victoria dan lain sebagainya. Dari kawasan Soalanda ini pula yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan bermarga/famillie nama Belanda/Eropa di Saparua.

“Abrahams, Adriaansz/Adriaans, Bernard, de Fretes, de Haas, de Lima, de Sirat, Engel,  Engelberth, Gaspersz, Hengstz, Hermans, Hogendorp, Jozef/Joseph, Laurens, Meijer/Meyer, Pietersz/Pieters, Ramschie, Rooij/Rooy, Sichers/Siegers, Sourbag/Sourbeck, Thijssen/Thyssen dan Van den Berg”

John Thyssen (Burgers Soalanda Saparoea)

Setelah era kemerdekaan pada tahun 1945-1950an, masa di mana pemerintah Kolonial Hindia Belanda harus menyerahkan wilayah kedaulatan Nusantara ke tangan pemerintah Republik Indonesia yang telah resmi memproklamirkan diri sebagai bangsa merdeka, dan secara sah diakui oleh dunia Internasional. Hal itu membuat banyak warga keturunan melakukan eksodus secara besar-besaran ke Belanda, hanya ada sebagian kecil saja yang memilih menetap dan beranak pinak di Indonesia. Hal yang sama dialami juga oleh pribumi dari suku Maluku, Minahasa, Jawa dan lainnya yang berdinas di Konenklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang tidak mau berafiliasi/bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sehingga banyak dari bekas-bekas serdadu ini bersama keluarganya memilih diberangkatkan dengan kapal menuju Camp Penampungan di Belanda. Namun ada juga sebagian bekas serdadu KNIL yang memilih untuk menetap di tanah kelahiran mereka dan bergabung dengan TNI. Bekas-bekas serdadu dan warga keturunan Belanda yang memilih menetap kemudian bersama warga kelas dua (Tionghoa/China, Arab, India dan Non Eropa lainnya) serta warga kelas tiga (Pribumi) menjadi bagian dari Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber:
1.       Catatan Sejarah Negeri Saparua
2.       Pieter. H. van der Kemp dalam bukunya : Het herstel van het Nederlandsch gezag in de Molukken in 1817 yang terbit tahun 1911.
3.   DS (Dictus – Pendeta) Steven Adriaan Buddingh dalam bukunya (hlm 196-197), yang terbit di Amsterdam tahun 1857 :“Nederlands Oost-Indie Reizen Over Java, Makasar, Madura, Selayar, Ambon, Haroeko, Saparoea, Noesalaut
4.       Wikipedia (Ensiklopedia Bebas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar