Rabu, 18 Januari 2017

SAPARUA [ Sebagai Sebuah Nama ]


(Perubahan nama Saparua berdasarkan arsip-arsip)

Oleh : Adryn Anakotta
Editor : Ferdy Lalala

Pengantar
Artikel ini bisa dianggap sebagai artikel “pelengkap” dari artikel sebelumnya1.  Pada artikel sebelumnya, disajikan penelusuran “sejarah” berdasarkan sumber-sumber sejarah. Artikel ini lebih difokuskan pada “perubahan” nama Saparua dari masa ke masa.
Nama Saparua yang kita kenal, kita ketahui, bahkan mungkin kita telah hafal cara menulisnya, rupanya, mengalami perubahan dari masa ke masa.
Perubahan itu terjadi karena beberapa faktor, bisa karena “ketidaksempurnaan” lidah para pengucap, faktor ejaan di masa itu, atau mungkin karena “gaya bahasa” dari para penulis arsip-arsip itu sendiri.
Lewat artikel ini, penulis bermaksud menyajikan perubahan-perubahan itu, sehingga kita bisa melihat dan memahami “proses” panjang itu sehingga tiba pada hasil yang kita lihat di masa kini.

Jumat, 16 Desember 2016

Para Pejuang Itu ''INVISIBLE MAN"

 - Orang Negeri Saparua dan Perang Pattimura -

Penulis: Adryn Anakotta
Editor : Ferdy Lalala



Pengantar
Pemberontakan Thomas Matulesij (dalam perspektif Belanda) atau Perang Pattimura tahun 1817, tidak bisa dilepas-pisahkan dari Saparua, baik pulau maupun “TKP pusatnya” yaitu Negeri Saparua. Perang yang hampir mencapai 6 bulan itu, tidak saja merepotkan kaum penjajah, karena belum lama mereka mengambil lagi Maluku dari tangan Inggris (Maret 1817), tapi di sisi lain juga melibatkan banyak orang dari berbagai kawasan di sekitar “locus delicity” atau lokasi kejadian. Kejadian yang berlangsung hampir 2 abad lalu itu, terus menimbulkan banyak perdebatan dan pertanyaan. Para pemimpin pemberontakan itu, kisah hidup mereka pun hanyalah “sepotong-sepotong”. Kita hanya mengenal secara “sambil lalu”, Thomas Matulesij, Sayat Parintah (Said), Anthonij Rhebok, Philip Latumahina, Christina Martha Tiahahu dan beberapa orang lainnya. Hanya itu, agak aneh memang, tapi begitulah faktanya. Selain itu, pemberontakan yang memakan waktu 6 bulan itu pun tentunya melibatkan banyak orang namun kembali lagi kita tak disuguhi oleh narasi seperti itu. Mungkin historiografi sejarah kita, hanya lebih “suka” menonjolkan “pribadi” para pemimpinnya, rakyat kecil jarang untuk diangkat atau disentuh.
Setiap pemimpin besar pastilah dikelilingi oleh orang-orang terbaiknya, minimal ada “orang-orang tak dikenal” yang turut membantunya. Begitu juga yang terjadi dalam Perang Pattimura.
Lewat artikel ini, penulis hanya berupaya menyajikan hal-hal “sederhana” itu, hal-hal yang mungkin tak diketahui oleh kita selama ini. “invisible man” itu memang tak secara eksplisit dinarasikan dalam sejarah resmi kita, namun nama mereka tercatat dalam arsip-arsip kolonial yang ada pada masa itu.
Seperti yang disebutkan di atas, peristiwa itu telah “menarik minat” orang-orang di sekitar, dari berbagai daerah di sekitar untuk turut terlibat. Mempertimbangkan, banyaknya data yang mungkin saja terjadi, maka penulis hanya membatasi pada orang-orang asal negeri Saparua yang turut terlibat dalam peristiwa itu. Tak ada alasan lain, hanya alasan teknis saja, namun mungkin itu semua bisa “dilunasi” dengan lampiran yang disertakan dalam artikel ini. Lampiran I, berupa nama-nama dari negeri lain, terkhususnya dari pulau saparua yang turut terlibat. Lampiran II, berupa nama-nama tentara Belanda yang tewas dalam operasi penumpasan pemberontakan itu.

Senin, 14 November 2016

Van den Berg Van Saparoea

- Cerita Singkat Sisi Lain Perang Pattimura 1817 -

Penulis : Adryn Anakotta
Editor : Ferdy Lalala - Novaria Anakotta/Waelauruw


Pengantar

Cerita sejarah perang Pattimura, tentulah selalu berhubungan dengan tokoh “antagonis” yaitu sang Residen Saparoea, Johanes Rudolph van den Berg atau biasa dikenal dengan nama Residen van den Berg. Kedua tokoh sejarah ini selalu berhubungan dan tak terpisahkan dalam narasi sejarah itu. Sang residen disebut tokoh antagonis, karena selayaknya tokoh antagonis, ia adalah vilaian atau “penjahat” yang pada akhirnya harus dibunuh. Dalam pandangan pemerintah Hindia Belanda (Belanda – red), Pattimura atau Thomas Matulesia/Matulessy juga seorang penjahat yang harus dibunuh. Kedua tokoh ini lahir, dan tumbuh dari 2 dunia yang berbeda tapi hidup mereka berakhir pada sudut yang sama yaitu meninggal pada usia muda. Sang residen meninggal pada usia 28 tahun, sedangkan Thomas Matulesia/Matulessy pada usia 34 tahun. Berbeda dengan biografi Thomas Matulessy yang agak “misterius”, biografi sang residen sedikit lebih baik karena bisa ditelusuri dan diverifikasi sampai jauh ke belakang. Hal ini disebabkan karena sistim pencatatan dan pendokumentasian yang lebih baik dan terjaga sejak awal. Harus diakui, bahwa biografi sang pahlawan Thomas Matulessy menimbulkan banyak perdebatan. Asal, tempat lahir, tanggal lahir dan seterusnya menimbulkan banyak perdebatan, meski sejarah “resmi” memuat hal itu semua.

Lukisan : Johanes Rudolph van den Berg, Ayah (Kiri)
Jean Lubert van den Berg van Saparoea (Tengah)
Johana Christina Umbgrove, Ibu (Kanan)
Sumber : Familie van den Berg van Saparoea

Singkat kata, perang Pattimura selain seperti yang telah diketahui bersama, juga memiliki sisi lain. Sisi lain tentang kehidupan manusia yang mungkin saja, tak pernah terpikirkan untuk terlibat dalam pusaran kehidupan penuh tragedi berdarah. Seperti diketahui, dalam peristiwa itu, seorang anak kecil berusia 5 tahun lolos dari maut. Anak ini adalah anak tertua sang Residen itu. Ayah, ibu dan kedua adiknya tewas. Hanya dialah yang lolos. Mungkin takdir hidupnya, agar ia tetap hidup. Mungkin juga sebuah keberuntungan semata. Tapi yang pasti, dia akhirnya hidup sampai tua, berkeluarga dan seluruh keturunannya kini akan selalu memiliki kaitan dengan masa lalunya yang pahit itu, memiliki kenangan dengan sebuah tempat yang jauh dari tempat kelahirannya, sebuah tempat yang pada akhirnya akan “menempel” pada jalan hidupnya. Ya dialah Johanes (Jean) Lubert van den Berg van Saparoea, anak kecil yang lolos dari maut itu.
Artikel singkat ini, hanya menyajikan atau memaparkan keluarga besarnya yang berhubungan dengan Saparoea. Pastilah dalam pemaparan itu, akan selalu bersinggungan dengan narasi tentang perang Pattimura, namun narasi itu bukanlah fokus dari artikel ini. Narasi itu hanyalah sebagai “latar awal” dari biografi keluarga besarnya. Pada artikel ini juga, diurai jejaring keluarga besar mereka yang berpengaruh, dalam konteks kedudukan, jabatan maupun besarnya keturunan mereka yang saling terikat, terhubung karena suatu pernikahan. Pernikahan “model begini” merupakan hal umum yang terjadi di saat itu yang bisa ditelusuri hingga jauh kebelakang, dan peranan para perempuan sangat signifikan dalam “kasus” ini. Untuk memahami hal itu lebih mendalam, ada baiknya dipersilahkan untuk membaca kajian Jean German Taylor, The Social world of Batavia.1
Selain itu, seperti yang ditulis di atas, “biografi” keluarga besar mereka bisa “ditarik” sampai jauh kebelakang. Dari penelusuran penulis, diketahui bahwa keluarga besar mereka bisa dilacak hingga tahun 1500an, atau paruh kedua abad ke-16.    

Jumat, 26 Agustus 2016

Upulatu Maralatu Pisarana Hatusiri Amalatu

Yana Hatusiri Sopa Solohua o
Sopa Solohua Pala e, Latu Horoil o
Ale Sopa e, Sopa Solohua e
E Yana Pisarana Hutu Sambi Mese-Mese o

Upulatu e Latu Hatusiri o
Solohua Apaem Unalatu Horoil o
Ale Solo e, Solohua Apaem e
E Latu Horoil o, Waka Poso Pamahanu Pisarana o

Upulatu e, Latu Hatusiri o
Poso Ni Makana Pamahanu Pisarana o
Ale Poso, Poso Ni Makana e
E Solohua Memberkati Hutaneil o

Kamis, 14 Juli 2016

MENYOAL NAMA SAPAROEA

Sebuah Kajian Berdasarkan Beberapa Sumber 

Penulis: Aldryn Anakotta 
Editor: Ferdy Lalala



Kaart van de Oeliassers

       PENGANTAR

William Sheakspeare, penulis kenamaan Inggris pernah mengatakan: apalah arti sebuah nama, bunga mawar meski bernama lain, pasti tetaplah harum. Namun, bagaimanapun juga nama adalah sebuah identitas, pengenal dari sebuah objek (benda) agar dikenali dan disapa dalam suatu percakapan antar manusia. Kita tak mungkin menyapa seseorang tanpa menyebut nama sebagai identitasnya. Jika itu dilakukan, agak terasa tidak etis dari sisi norma kesopanan yang hidup dalam suatu komunitas. Selain sebagai identitas, nama juga memiliki arti dan alasan serta sejarahnya suatu objek dinamai seperti itu. Banyak contoh bisa diberikan, Negara kita yang tercinta INDONESIA, juga memiliki sejarah yang panjang, arti dan alasan kenapa Negara kita dinamai INDONESIA. Berikut ini adalah catatan sejarah mengenai nama INDONESIA:

Catatan masa lalu menyebut kepulauan diantara Indocina dan Australia dengan aneka nama.
Kronik-kronik bangsa Tionghoa menyebut kawasan ini sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut Selatan").
Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara ("Kepulauan Tanah Seberang"), nama yang diturunkan dari kata dalam bahasa Sanskerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa ("Pulau Emas", diperkirakan Pulau Sumatera sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Bangsa Arab menyebut wilayah kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab, luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatera. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "orang Jawa" oleh orang Arab, termasuk untuk orang Indonesia dari luar Jawa sekali pun. Dalam bahasa Arab juga dikenal nama-nama Samathrah (Sumatera), Sholibis (Pulau Sulawesi), dan Sundah (Sunda) yang disebut kulluh Jawi ("semuanya Jawa"). Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang", sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau Hindia Timur (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang kelak juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).
Unit politik yang berada di bawah jajahan Belanda memiliki nama resmi Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda). Pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur) untuk menyebut wilayah taklukannya di kepulauan ini. Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah memakai nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu "Insulinde", yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (dalam bahasa Latin "insula" berarti pulau). Nama "Insulinde" ini selanjutnya kurang populer, walau pernah menjadi nama surat kabar dan organisasi pergerakan di awal abad ke-20.

Senin, 20 Juni 2016

V O C (The Dutch East India Company)




Gubernur Jenderal VOC  

19 Dec 1610 - 06 Nov 1614  Pieter Both                            (b. 1568 - d. 1615)
06 Nov 1614 - 07 Dec 1615  Gerard Reynst                          (b. c.1568 - d. 1615)
19 Jun 1616 - 21 Mar 1619  Laurens Reael                          (b. 1583 - d. 1637)
30 Apr 1618 - 01 Feb 1623  Jan Pieterszoon Coen (1st time)        (b. 1587 - d. 1629)
01 Feb 1623 - 30 Sep 1627  Pieter de Carpentier                   (b. 1586 - d. 1659)
30 Sep 1627 - 21 Sep 1629  Jan Pieterszoon Coen (2nd time)        (s.a.)
25 Sep 1629 - 27 Sep 1632  Jacques Specx                          (b. 1585 - d. 1652)
27 Sep 1632 - 01 Jan 1636  Hendrik Brouwer                        (b. 1581 - d. 1643)
01 Jan 1636 - 19 Apr 1645  Antonio van Diemen                     (b. 1593 - d. 1645)
19 Apr 1645 - 26 Apr 1650  Cornelis van der Lijn                  (b. 1608 - d. 1679)
26 Apr 1650 - 19 May 1653  Carel Reyniersz                        (b. 1604 - d. 1653)
19 May 1653 - 04 Jan 1678  Joan Maetsuyker                        (b. 1606 - d. 1678)
04 Jan 1678 - 25 Nov 1681  Rijcklof van Goens                     (b. 1619 - d. 1682)
25 Nov 1681 - 11 Jan 1684  Cornelis Speelman                      (b. 1628 - d. 1684)
11 Jan 1684 - 24 Nov 1691  Joanes Camphuys                        (b. 1634 - d. 1695)
24 Sep 1691 - 15 Aug 1704  Willem van Outhoorn                    (b. 1635 - d. 1720)
15 Aug 1704 - 30 Oct 1709  Johan van Hoorn                        (b. 1653 - d. 1711)
30 Oct 1709 - 17 Nov 1713  Abraham van Riebeeck                   (b. 1653 - d. 1713)
17 Nov 1713 - 12 Nov 1718  Christoffel van Swoll                  (b. 1668 - d. 1718)
13 Nov 1718 - 08 Jul 1725  Henricus Zwaardecroon                  (b. 1667 - d. 1728)
08 Jul 1725 - 01 Jun 1729  Matthaeus de Haan                      (b. 1663 - d. 1729)
01 Jun 1729 - 09 Oct 1731  Diederik Durven                        (b. 1676 - d. 1740)
28 May 1732 - 10 Mar 1735  Dirk van Cloon                         (b. 1684 - d. 1735)
11 Mar 1735 - 03 May 1737  Abraham Patras                         (b. 1671 - d. 1737)
03 May 1737 - 06 Nov 1741  Adriaan Valckenier                     (b. 1695 - d. 1751)
06 Nov 1741 - 28 May 1743  Johannes Thedens (acting)              (b. c.1680 - d. 1748)
28 May 1743 - 01 Nov 1750  Gustaaf Willem baron van Imhoff        (b. 1705 - d. 1750)
01 Nov 1750 - 15 May 1761  Jacob Mossel (acting to 1752)          (b. 1704 - d. 1761)
15 May 1761 - 28 Dec 1775  Petrus Albertus van der Parra          (b. 1714 - d. 1775)
28 Dec 1775 - 03 Oct 1777  Jeremias van Riemsdijk                 (b. 1712 - d. 1777)
04 Oct 1777 - 01 Sep 1780  Reinier de Klerk                       (b. 1710 - d. 1780)
                           (acting to 9 Oct 1778)
02 Sep 1780 - 16 Aug 1796  Willem Arnold Alting                   (b. 1724 - d. 1800)
16 Aug 1796 - 22 Aug 1801  Peter Gerhardus van Overstraten        (b. 1755 - d. 1801)
22 Aug 1801 - 19 Oct 1804  Johannes Siberg (arrived Apr 1802)     (b. 1740 - d. 1817)
19 Oct 1804 - 14 Jan 1808  Albertus Henricus Wiese                (b. 1761 - d. 1810)
14 Jan 1808 - 16 May 1811  Herman Willem Daendels                 (b. 1762 - d. 1818)
16 May 1811 - 18 Sep 1811  Jan Willem Janssens                    (b. 1762 - d. 1838)

Selasa, 31 Mei 2016

Duurstede Untold Stories #3



“Bebatuan Melingkar” itu bercerita
  Bagian III


J.J. Rizal sejarahwan asal Betawi, dalam acara Flashback di MetroTv yang ditayangkan pada 06 Maret 2016 dengan judul “Kanal Molenvliet, Riwayatmu dulu dan kini” berkata: 
“...Generasi pertama VOC yang datang ke Hindia Timur adalah para pengecut, “sang anak mama/mami (The moma’s boys)...
 Mereka datang dengan banyak kenangan tentang perang 80 tahun di negaranya, dan ingin “menghadirkan” semua kenangan tentang tempat kelahiran mereka itu dalam bentuk bangunan-bangunan di tanah jajahan yang baru (Indonesia). Dari bentuk bangunan (benteng), rumah, arsitektur penataan sebuah kota hingga penamaan semuanya didasari oleh kenangan emosional itu... kira-kira begitulah maksud dari J.J. Rizal tadi.

Het Fort Duurstede (Photo by : Ambonesia Foundation)